Iklan
Iklan
Iklan
Iklan

share

DJOGOSURO dan Tren Baru Edukasi Kebencanaan Berbasis Teknologi serta Kearifan Lokal

November 4, 2026

Oleh: Professional Review

Prestasi Griselda Nuria Alisha di Malaysia melalui DJOGOSURO menunjukkan potensi integrasi teknologi, kearifan lokal, dan pendidikan mitigasi bencana di Indonesia.

Prestasi Griselda Nuria Alisha, siswi MAN 1 Kota Malang, di Malaysia membawa perhatian pada satu aspek yang semakin penting dalam dunia pendidikan, yakni bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat. Melalui DJOGOSURO, Griselda mengembangkan pendekatan edukasi mitigasi bencana yang memadukan teknologi digital dengan kearifan lokal.

Karya berjudul “DJOGOSURO: Education Based on Local Wisdom Using Lembu Suro Cinematic VR and Website to Enhance Preparedness for Volcanic Eruption Disaster Mitigation” tersebut berhasil meraih MMU President’s Excellence Award – 2nd Runner-Up dalam World Sustainable Development Goals Challenge (WSDG) 2026 di Multimedia University, Cyberjaya, Malaysia. Kompetisi berlangsung pada 24–28 September 2026.

Dari perspektif inovasi pendidikan, DJOGOSURO menarik karena tidak menempatkan teknologi sebagai tujuan akhir. Teknologi justru digunakan sebagai instrumen untuk menyampaikan materi yang berkaitan dengan mitigasi erupsi gunung berapi secara lebih visual, interaktif, dan kontekstual.

SPONSORED
Tertarik dengan penawaran ini?Pilih Lihat Detail atau langsung Hubungi Kami.

Mengubah Pola Edukasi Kebencanaan

Selama ini, pendidikan kebencanaan di lingkungan sekolah sering kali disampaikan melalui materi tertulis, sosialisasi, simulasi, atau kegiatan tatap muka. Pendekatan tersebut tetap memiliki peran penting, tetapi perkembangan teknologi membuka peluang untuk menghadirkan model pembelajaran yang lebih beragam.

DJOGOSURO mencoba memanfaatkan peluang tersebut melalui website, video animasi, kuis interaktif, serta simulasi status aktivitas gunung. Pengguna dapat mempelajari informasi mengenai penyebab dan dampak erupsi, pengurangan risiko, serta langkah yang perlu dilakukan sebelum, saat, dan setelah bencana.

Salah satu fitur yang dikembangkan adalah simulasi empat status aktivitas gunung, yakni Normal, Waspada, Siaga, dan Awas. Materi tersebut memberikan gambaran kepada pengguna mengenai perubahan tingkat kewaspadaan yang berkaitan dengan aktivitas vulkanik.

Pengembangan DJOGOSURO juga tidak dilakukan hanya berdasarkan asumsi. Informasi mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan bencana divalidasi dengan BPBD Kabupaten Malang. Sementara informasi mengenai Lembu Suro diperoleh melalui penelusuran data dan dikonfirmasi dengan masyarakat di kawasan lereng Gunung Kelud.

Kearifan Lokal sebagai Instrumen Pembelajaran

Aspek lain yang membedakan DJOGOSURO adalah penggunaan Lembu Suro sebagai pintu masuk edukasi. Tokoh yang memiliki keterkaitan dengan cerita dan kearifan lokal masyarakat sekitar Gunung Kelud tersebut ditempatkan dalam ruang digital untuk membantu menjembatani budaya dengan pendidikan kebencanaan.

Pendekatan tersebut memiliki nilai strategis dalam pembelajaran. Materi mitigasi yang berkaitan dengan risiko bencana dapat terasa lebih dekat ketika disampaikan melalui unsur budaya yang sudah dikenal masyarakat.

Implementasi awal DJOGOSURO dilakukan di SDN Pandansari 2, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Pemilihan lokasi tersebut juga berkaitan dengan kondisi geografis kawasan yang berada di sekitar Gunung Kelud serta pengalaman masyarakat menghadapi erupsi pada 2014.

Dalam implementasinya, siswa diperkenalkan dengan website, mengikuti materi edukasi, menyaksikan video animasi, dan mengerjakan kuis. Pendekatan visual dan interaktif tersebut memberikan alternatif bagi guru dalam menyampaikan materi kesiapsiagaan bencana.

Potensi Pengembangan Model Edukasi

Dari sisi pengembangan, DJOGOSURO menunjukkan bahwa proyek pendidikan berbasis teknologi tidak harus dimulai dari institusi besar. Gagasan dapat muncul dari pelajar yang melihat persoalan di lingkungan sekitar, kemudian menggabungkan pengetahuan, teknologi, dan sumber daya yang tersedia.

Pengembangan selama sekitar dua hingga tiga bulan juga memperlihatkan bagaimana sebuah proyek pelajar dapat diarahkan untuk menghasilkan produk yang memiliki fungsi praktis. Website tersebut tidak hanya ditujukan untuk siswa, tetapi juga dirancang agar dapat dimanfaatkan guru, orang tua, dan masyarakat.

Keterlibatan berbagai pihak menjadi penting apabila model semacam ini ingin diperluas. Sekolah dapat berperan dalam penggunaan materi, guru dalam proses pembelajaran, sementara lembaga kebencanaan dapat membantu memastikan informasi yang disampaikan tetap relevan dan sesuai dengan prosedur mitigasi.

Relevansi dengan Tren Pendidikan Digital

Perkembangan DJOGOSURO sejalan dengan tren pendidikan yang semakin memanfaatkan teknologi interaktif. Penggunaan video, simulasi, kuis digital, dan virtual reality dapat memberikan pengalaman belajar yang berbeda dibandingkan pembelajaran berbasis teks semata.

Namun, efektivitas teknologi tetap bergantung pada kualitas konten dan konteks penggunaannya. Dalam edukasi kebencanaan, akurasi informasi menjadi aspek yang tidak dapat diabaikan. Teknologi harus membantu pengguna memahami risiko, bukan sekadar memberikan pengalaman visual.

Karena itu, proses validasi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan DJOGOSURO. Integrasi antara kemampuan teknologi dan sumber pengetahuan kebencanaan dapat menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah media digital benar-benar memberikan manfaat pendidikan.

Dari Kompetisi Menuju Dampak yang Lebih Luas

Penghargaan yang diperoleh Griselda di Malaysia menjadi indikator bahwa gagasan tersebut mendapatkan pengakuan dalam sebuah kompetisi internasional. Namun, ukuran keberhasilan berikutnya dapat dilihat dari sejauh mana inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan digunakan di luar konteks kompetisi.

Potensi pengembangan dapat mencakup perluasan materi ke sekolah lain di kawasan rawan bencana, pengembangan konten untuk tingkat usia berbeda, serta peningkatan fitur simulasi. Integrasi dengan sumber informasi resmi kebencanaan juga dapat menjadi bagian dari pengembangan berikutnya.

Bagi dunia pendidikan, perjalanan DJOGOSURO menunjukkan bahwa kompetisi internasional dapat menjadi ruang untuk menguji gagasan sekaligus memperkenalkan inovasi lokal ke audiens yang lebih luas. Sementara bagi pelajar, proses tersebut memberikan pengalaman dalam melakukan riset, mengembangkan produk, mempresentasikan gagasan, dan menerima evaluasi.

Prestasi Griselda juga tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari pengalaman pendidikan dan organisasi di MAN 1 Kota Malang. Griselda sebelumnya tercatat sebagai Ketua OSIS MAN 1 Kota Malang periode 2025/2026, sehingga proses pengembangan inovasi tersebut berjalan berdampingan dengan pengalaman kepemimpinan dan aktivitas sekolah.

Pada akhirnya, DJOGOSURO memperlihatkan arah yang menarik dalam pengembangan pendidikan kebencanaan. Kearifan lokal tidak harus ditinggalkan ketika teknologi berkembang. Sebaliknya, keduanya dapat dipertemukan untuk menciptakan materi pembelajaran yang lebih kontekstual dan mudah diterima.

Penghargaan di Malaysia menjadi salah satu capaian dari perjalanan tersebut. Tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa inovasi seperti DJOGOSURO dapat terus berkembang dari sebuah karya kompetisi menjadi media edukasi yang memberikan manfaat nyata bagi siswa dan masyarakat yang hidup di kawasan dengan risiko bencana.