Banda Aceh meraih Silver IMT-GT Green City Award 2026 untuk pengelolaan sampah. Capaian ini menunjukkan pentingnya kinerja, keberlanjutan, inovasi, dan kolaborasi kota.
BANDA ACEH — Pengelolaan sampah semakin berkembang dari sekadar persoalan kebersihan menjadi salah satu indikator penting dalam menilai kapasitas pemerintah kota mengelola pembangunan berkelanjutan. Karena itu, capaian Banda Aceh meraih Silver Award kategori Solid Waste Management pada 1st IMT-GT Green City Award 2026 menarik dilihat bukan hanya sebagai penghargaan, tetapi juga sebagai indikator atas proses pengelolaan lingkungan perkotaan.
Penghargaan tersebut diterima Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal dalam rangkaian Gala Dinner 32nd IMT-GT Ministerial Meeting and Related Meetings di JW Marriott Hotel Medan, 9 September 2026. Dalam kategori yang sama, Manjung Municipality, Malaysia, memperoleh Gold Award dan Pekanbaru City, Indonesia, memperoleh Bronze Award.
Secara konseptual, IMT-GT Green City Award memang tidak hanya melihat hasil akhir sebuah program. Penyelenggara menyebut penghargaan ini ditujukan bagi kota yang menunjukkan keunggulan, inovasi, serta komitmen berkelanjutan dalam pembangunan perkotaan yang lebih hijau, inklusif, dan tangguh terhadap perubahan iklim.
Kinerja Sampah sebagai Bagian dari Kinerja Kota
Pengelolaan sampah memiliki karakter yang berbeda dibandingkan proyek pembangunan fisik. Infrastruktur dapat dibangun dalam periode tertentu, tetapi sistem persampahan membutuhkan operasi yang berjalan setiap hari. Mulai dari pengurangan sampah, pengumpulan, pengangkutan, pemrosesan hingga pengelolaan residu, setiap tahapan membutuhkan koordinasi dan pembiayaan yang berkelanjutan.
Karena itu, penghargaan yang diterima Banda Aceh relevan ditempatkan dalam konteks kinerja pemerintah kota secara lebih luas. Pemerintah Kota Banda Aceh menyebut penghargaan tersebut sebagai apresiasi atas komitmen dan upaya memperkuat pengelolaan persampahan sekaligus mendorong pembangunan kota yang berorientasi pada keberlanjutan lingkungan.
Yang menarik, kerangka penilaian IMT-GT Green City Award memasukkan sejumlah aspek yang lebih luas daripada sekadar capaian teknis. Penilaian mencakup impact, sustainability, innovation, scalability and adaptability, serta governance and participation. Dengan demikian, performa pengelolaan sampah juga dikaitkan dengan keberlanjutan kelembagaan, inovasi, potensi replikasi, serta keterlibatan masyarakat dan sektor swasta.
Perspektif tersebut memperlihatkan perubahan tren dalam pengelolaan kota. Pemerintah daerah tidak lagi hanya dituntut mampu menyediakan layanan, tetapi juga menunjukkan bagaimana layanan tersebut menghasilkan dampak, dapat dipertahankan dalam jangka panjang, dan berpotensi dikembangkan atau direplikasi.
Tantangan Setelah Mendapat Silver Award
Wali Kota Illiza Sa’aduddin Djamal sendiri menegaskan bahwa Silver Award tidak boleh menjadi titik akhir. Menurutnya, penghargaan tersebut harus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pengelolaan persampahan di Banda Aceh. Ia juga menekankan bahwa persoalan sampah membutuhkan keterlibatan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, komunitas, dan pemangku kepentingan lainnya.
Pernyataan tersebut penting jika capaian penghargaan ingin diterjemahkan menjadi peningkatan kinerja. Sistem persampahan pada akhirnya bergantung pada konsistensi pelaksanaan, bukan hanya pada kualitas program ketika dinilai.
Dalam konteks ini, tantangan berikutnya bagi Banda Aceh adalah bagaimana mempertahankan praktik yang sudah berjalan sekaligus meningkatkan aspek yang masih dapat dikembangkan. Kerangka IMT-GT sendiri memberikan ruang untuk melihat keberlanjutan, inovasi, kemampuan adaptasi, serta tata kelola partisipatif sebagai bagian dari evaluasi kota.
Artinya, Silver Award dapat menjadi baseline untuk melakukan evaluasi lanjutan. Pemerintah kota dapat melihat kembali indikator layanan, efektivitas program, keterlibatan masyarakat, penggunaan teknologi, serta kemungkinan membangun model pengelolaan yang lebih efisien dan dapat diterapkan di wilayah lain.
Dari Persoalan Lokal ke Pembelajaran Regional
Salah satu nilai strategis dari penghargaan IMT-GT adalah adanya dimensi kerja sama lintas negara. Program ini melibatkan kota dan pemerintah daerah dari wilayah Indonesia, Malaysia, dan Thailand dalam kerangka pembangunan perkotaan berkelanjutan. Penghargaan tersebut juga dirancang untuk mendorong pertukaran praktik baik dan memperdalam kolaborasi lintas batas.
Bagi Banda Aceh, posisi tersebut membuka peluang pembelajaran dari kota-kota lain di kawasan. Manjung Municipality, misalnya, memperoleh Gold Award pada kategori Solid Waste Management, sementara Pekanbaru mendapatkan Bronze Award. Perbedaan capaian tersebut dapat menjadi ruang untuk melihat berbagai pendekatan pengelolaan sampah yang diterapkan masing-masing kota.
Lebih jauh, IMT-GT Green City Award memiliki keterkaitan dengan IMT-GT Vision 2036, Sustainable Urban Development Framework, prioritas urbanisasi berkelanjutan ASEAN, dan Sustainable Development Goals. Artinya, isu pengelolaan sampah Banda Aceh berada dalam agenda pembangunan yang lebih luas daripada sekadar kebijakan daerah.
Mengukur Keberhasilan Secara Berkelanjutan
Bagi pemerintah daerah, tantangan terbesar setelah memperoleh penghargaan adalah memastikan capaian tersebut dapat diterjemahkan menjadi indikator kinerja yang terukur. Pengurangan timbulan sampah, peningkatan efektivitas layanan, penguatan partisipasi masyarakat, dan efisiensi pengelolaan dapat menjadi bagian dari evaluasi berkelanjutan.
Pendekatan semacam itu juga membuat penghargaan berfungsi lebih dari sekadar pengakuan. Ia dapat menjadi momentum untuk membangun budaya evaluasi dan mendorong pemerintah daerah melihat persoalan lingkungan berdasarkan data, dampak, serta keberlanjutan program.
Banda Aceh kini memiliki pengakuan regional melalui Silver Award pada kategori Solid Waste Management. Tahap berikutnya adalah bagaimana capaian tersebut dipertahankan dan dikembangkan sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat serta memperkuat kapasitas kota dalam menghadapi tantangan lingkungan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan kota hijau tidak berhenti pada posisi sebuah kota dalam sebuah penghargaan. Ukuran yang lebih penting terletak pada kemampuan menghadirkan sistem yang konsisten, melibatkan masyarakat, menghasilkan dampak yang dapat diukur, dan mampu beradaptasi terhadap kebutuhan masa depan.




