Jakarta — Pernyataan CEO Google Sundar Pichai bahwa data center di luar angkasa akan menjadi “normal baru” dalam satu dekade ke depan memicu diskusi luas di kalangan profesional teknologi. Inisiatif ini, dikenal sebagai Project Suncatcher, bertujuan memanfaatkan energi matahari di orbit untuk mengurangi konsumsi energi masif pusat data di Bumi.
Dari perspektif profesional, ide ini menghadirkan sejumlah poin evaluasi:
- Teknis: Google berencana meluncurkan satelit prototipe pada 2027 untuk menguji perangkat keras AI di luar angkasa. Startup seperti Starcloud sudah lebih dahulu meluncurkan satelit AI, menunjukkan bahwa ekosistem teknologi ini mulai terbentuk. Namun, tantangan teknis mencakup stabilitas jaringan, latency, serta keamanan data.
- Ekonomi: McKinsey memperkirakan kebutuhan belanja modal pusat data darat mencapai lebih dari $5 triliun pada 2030. Data center luar angkasa berpotensi menekan emisi karbon hingga 10 kali lebih rendah, tetapi biaya pembangunan dan operasional masih belum jelas. Profesional menilai bahwa keberhasilan proyek ini bergantung pada efisiensi biaya dan model bisnis yang realistis.
- Keberlanjutan: Laporan Departemen Energi AS mencatat konsumsi listrik pusat data bisa mencapai 12% dari total listrik nasional pada 2028. Dengan memanfaatkan energi matahari di luar angkasa, Google menawarkan solusi berkelanjutan. Namun, evaluasi profesional menekankan perlunya analisis dampak lingkungan dari peluncuran satelit dalam jumlah besar.
Kesimpulannya, visi Pichai menegaskan arah baru dalam industri teknologi, tetapi dari sudut pandang profesional, keberhasilan ditentukan oleh integrasi antara inovasi, biaya, dan keberlanjutan. Evaluasi ini menunjukkan bahwa data center luar angkasa bukan sekadar ide futuristik, melainkan tantangan nyata yang menuntut standar profesional tinggi dalam eksekusi.
