Jakarta — Aset ETF emas dan perak dilaporkan meningkat dua kali lipat hanya dalam kurun waktu enam bulan terakhir, didorong oleh arus masuk dana yang mencapai rekor tertinggi. Fenomena ini menegaskan bahwa logam mulia tetap menjadi instrumen investasi yang paling diminati di tengah ketidakpastian global.
Menurut laporan Business Standard, investor berbondong‑bondong masuk ke ETF emas dan perak sebagai bentuk lindung nilai terhadap inflasi, gejolak geopolitik, serta volatilitas pasar saham. Lonjakan ini menunjukkan bagaimana logam mulia masih dianggap sebagai “safe haven” yang mampu menjaga nilai aset ketika instrumen lain mengalami tekanan.
Dari perspektif analisis ekonomi, kenaikan aset ETF emas dan perak mencerminkan tren global yang lebih luas. Ketika suku bunga dan kebijakan moneter masih penuh ketidakpastian, investor cenderung mencari instrumen yang stabil. ETF berbasis emas dan perak menawarkan likuiditas sekaligus akses mudah bagi investor ritel maupun institusi.
Pengamat menilai bahwa lonjakan ini juga menandakan pergeseran strategi investasi. Jika sebelumnya fokus lebih banyak pada saham teknologi atau obligasi, kini logam mulia kembali menjadi pusat perhatian. Hal ini dapat memengaruhi alokasi portofolio global dan menekan harga aset lain.
Selain itu, tren ini memperlihatkan bagaimana ETF berperan penting dalam demokratisasi investasi. Dengan biaya relatif rendah dan akses yang luas, ETF memungkinkan investor kecil ikut serta dalam tren global yang sebelumnya hanya didominasi oleh institusi besar.
Kesimpulannya, peningkatan dua kali lipat aset ETF emas dan perak bukan sekadar angka statistik. Ia adalah cerminan dinamika ekonomi global, strategi mitigasi risiko, dan bukti bahwa logam mulia tetap menjadi pilihan utama dalam menghadapi ketidakpastian.
